zigmaomicron

salah satu media propaganda dari saya.. ;)

Category Archives: Materi dan Jurnal

Wacana : Ayah Lebih Suka Membeli Rokok Ketimbang Telur Untuk Anaknya

Pendapat tersebut muncul karena pada kehidupan sehari – hari tidak jarang kita menjumpai perilaku seperti di atas. Ketimbang membeli sekilo telur untuk keluarganya, para ayah lebih suka membeli sebungkus rokok kesukaannya. Semisal harga sebungkus rokok adalah Rp. 8.700,- dan sekilo telur ras Rp. 12.300,-maka dalam sehari dapat membeli minimal setengah kilo telur. Dari setengah kilo telur dinilai dapat mencukupi kebutuhan protein hewani satu keluarga dalam hari itu. Sebuah angka yang kecil namun memberikan dampak besar jika terjadi terus menerus, dampak positif jaika terpenuhi dan dampak negatif jika tidak terpenuhi.

Seperti yang diajarkan pada kita semenjak Sekolah Dasar, fungsi protein adalah sebagai zat pembangun tubuh. Dari pendidikan dasar kita sudah diajari fungsi protein, mengapa penerapanya sering tidak dilakukan sehari – hari.  Alasan ekonomi dan urusan pekerjaan membuat hal ini terlupakan, tetapi bukan berarti pemenuhan kebutuhan pokok menjadi terlupakan.

Jika kita menelaah fungsi protein hewani lebih dalam pada tubuh manusia, sangat banyak jumlahnya diantaranya untuk pembentuk jaringan tubuh yang rusak, pertumbuhan pada saat balita hingga pubertas, manusia dewasa juga membutuhkan untuk pemeliharaan tubuh, selain itu juga memberikan tenaga selain karbohidrat. Ternyata sangat esensial fungsi – fungsi tersebut.

Ketika seorang anak mengalami kekurangan atau defisiensi protein dapat menganggu pertumbuhan badan, otak, dan fungsi tubuh terutama. Di sekolah, pelajaran yang diberikan guru tidak dapat diterima dengan baik oleh anak. Sehingga bukan hanya tubuh yang terganggu, namun  juga aktivitasnya di keseharian. Tentunya bukan itu yang  diinginkan disaat menjadi orang tua dalam merawat penerus keluarga.

Mulailah dengan perubahan kecil dengan Sudah kewajiban sebagai ayah untuk memberikan kesejahteraan pada keluarga terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan gizi. Berikan prioritas pada anak – anak anda dalam pertumbuhanya, sehingga setelah besar nanti dapat membanggakan nama keluarga. Protein adalah sumber kemakmuran.

Produksi Ternak Unggas : Perkembangan Bakteri Patogen pada Alas Litter dan Efek Terhadap Performans Unggas serta Hasil Produksinya

Perkembangan Bakteri Patogen pada Alas Litter dan Efek Terhadap Performans Unggas serta Hasil Produksinya

BAB I

PENDAHULUAN

Sebagai dasar, kita ketahui bahwa fenotip dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Fenotip adalah ekspresi dari faktor genetik yang dapat kita amati, dapat berupa bentuk, karakteristik, hingga produtivitas ternak. Hal tersebut dipengaruhi oleh lingkungan yang dapat berupa pakan, kandang, penyakit, manajemen, dan lain – lain.  Dalam paper ini akan dibahas mengenai faktor lingkungan yaitu kandang dan penyakit, dimana dalam kandang ternak unggas digunakan litter sebagai alas. Bila pengelolaan kurang baik, litter dapat menjadi medium berkembang bakteri patogen penyebab penyakit bagi ternak yang dapat menganggu performans produktifitasnya. Serta adanya efek bagi manusia bila mengkonsumsi produk ternak yang tercemar.

Pada industri peternakan unggas komersial biasanya digunakkan litter sekam sebagai alas kandang. Alas kandang dapat berupa jerami atau bahan lain yang dapat menyerap cairan dari kotoran ayam. Selain itu, dengan menggunakan litter suhu dalam kandang dapat terjaga stabil dibandingkan dengan alas kawat, karena sifat isolator dari sekam serta jarak kerapatanya yang lebih kecil dibanding alas kawat. Dari segi ekonomi, litter sekam sebagai alas juga dinilai lebih ekonomis karena lebih gampang didapat serta dalam penggunaanya lebih simpel.

Namun jika pengelolaan litter tidak baik dapat menjadi medium penyakit bagi ternak. Bila ini terjadi, dapat merugikan bagi peternak bahkan para konsumen yang menggunakan hasil ternak tersebut. Litter kebanyakan berbahan sekam, dan kita ketahui sekam dapat bersifat menyerap zat cair.  Kotoran pada ternak unggas berupa ekskreta yang merupakan campuran dari kotoran padat dan urin. Jika litter tidak secara rutin dibersihkan, akan menjadi lembab bahkan basah. Bakteri patogen berkembang lebih pesat dalam kondisi lembab. Salah satunya bakteri Salmonella dan E. coli.

Salmonella menjadi salah satu bakteri sumber penyakit yang dikenal di seluruh dunia.  Penyakit yang disebabkan bakteri tersebut biasa disebut demam tipes. Dengan menyerang saluran pencernaan manusia atau ternak, bakteri ini mengakibatkan terganggunya fungsi – fungsi pencernaan. Sehingga korban mengalami kekurangan nutrisi dan bahkan kematian.

Dengan demikian melalui penjabaran dalam paper ini diharapkan kita mengetahui dengan baik karakteristik litter yang menjadi medium bakteri patogen, efek bagi ternak dan manusia, serta penanggulanganya. Sehingga efek negatif dari penyakit yang disebabgkan bakteri patogen dengan medium litter dapat ditanggulangi dengan optimal.

BAB II

MATERI

Litter dan Bakteri Patogen

Pada kandang ternak. Terdapat dua macam litter, yaitu litter sekam dan litter kawat. Litter kawat terbuat dari kawat yang diatur sejajar pada jarak yang teratur sebagai alas kandang. Dengan demikian, ketika ternak unggas mengeluarkan kotoran akan langsung terjatuh pada bawah litter dan kebersihan kandang dari kotoran lebih cepat diusahakan. Namun dengan menggunakan litter kawat, angin akan mudah masuk dan dapat menganggu suhu optimal pada kandang serta memudahkan medium penyakit seperti lalat masuk ke dalam kandang.

Pada kebanyakan industri peternakan unggas di Indonesia digunakan litter sekam sebagai alas kandang. Alas kandang yang digunakan biasanya merupakan sekam padi dimana dengan sekam atau bahan lain yang dapat menyerap cairan dari kotoran ayam. Selain itu, dengan menggunakan litter suhu dalam kandang dapat terjaga stabil dibandingkan dengan alas kawat, karena sifat isolator dari sekam serta jarak kerapatanya yang lebih kecil dibanding alas kawat. Dari segi ekonomi, litter sekam sebagai alas juga dinilai lebih ekonomis karena lebih gampang didapat serta dalam penggunaanya lebih simpel.

Namun bila kita menggunakan litter sekam dan dalam pengelolaanya kurang diperhatikan semisal terlambat menganti sekam yang lama dengan yang baru, litter dapat menjadi medium perkembangan bakteri patogen dan fungi. Karena ketika kotoran unggas terjatuh pada permukaan litter akan terserap cairannya sehingga mempengaruhi tingkat kelembaban permukaan litter. Terlebih jika pengaturan pertukaran udara dalam kandang kurang.

Penelitian dilakukan dengan menginokulasi Salmonella. Pada percobaan A, tiga buah loyang aluminium yang berisi litter dengan sebelumnya disterilisasi. Satu loyang sebagai kontrol dan dua loyang lainnya diinnokulasi Salmonella dengan semprotan suspensi berbeda kadar. Kamudian ketiganya diletakkan pada lingkungan terbuka. Sedangkan pada percobaan B, pembuatan inokulasi sama dengan percobaan A hanyasaja ditambahkan bahan organik pada awalnya.

Kemudian diambil sampel setiap dua kali dalam seminggu sebanyak 3 gr. Selanjutnya dari sampel tadi diambil filtratnya dan dihitung jumlah bakteri. Data dihitung secara statistik menggunakan bantuan software statistika.

Data diambil berdasarkan tiga perlakuan diantaranya : suhu lingkungan, kelembaban udara, dan pH.

Semakin tinggi tingkat kelembaban, semakin besar pula terjadinya perkembangan bakteri patogen dan fungi. Sehingga kemungkinan ternak terkena penyakit semakin tinggi. Seperti pendapat Soliman et al. (2009) yang menyatakan bahwa bertambahnya kelembaban udara, meingkatkan tingkat bertahan hidup S. typimurium di litter kandang unggas.

Selain kelembaban, pH turut serta mempengaruhi tumbuhnya bakteri patogen dan fungi pada litter sekam. Semakin asam kondisi litter, pertumbuhan bakteri semakin menurun. Dijelaskan oleh Soliman et al.  (2009) bahwa penurunan nilai pH mengurangi tingkat daya tahan hidup bakteri S. typhimurium.

Bakteri patogen dan fungi berkembang dengan baik jika kedua faktor tersebut mendukung. Salah satu bakteri yang berkembang pada litter sekam adalah bakteri Salmonella. Bakteri tersebut menjadi salah satu penyebab sakit pencernaan dan dikenal di dunia. Penyakit yang ditimbulkan biasa disebut demam tipes, dengan menyerang saluran pencernaan korban. Litter dianggap sebagai salah satu dari sekian banyak tempat yang sangat disukai sebadai media tumbuh oleh Salmonella. Dengan adanya bakteri tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya performans produksi unggas serta kontaminasi produknya.